Perlindungan Anak di Lingkungan Sekolah

Dipublikasikan oleh admin pada

Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak di indonesia. Membangkitkan Semangat Kepedulian Guru dan orang tua dalam melindungi anak dari kekerasan fisik, psikis dan Seksual di sekolah. Anak merupakan generasi penerus keluarga dan bangsa yang harus diberi pendidikan dan bimbingan untuk mengejar cita-citanya. Dalam hal ini anak mendapatkan pendidikan baik di sekolah, di dayah pengajian/pesantren, dan di rumah. Selama 6 (enam) jam anak mendapatkan pendidikan di sekolah umum dan 20 jam setiap harinya di pesantren. Orang tua sangat berharap agar anaknya mendapat pengetahuan dan wawasan keilmuan sesuai dengan bakatnya. Pada umumnya orang tua berharap lebih kepada sekolah/pendidik untuk mendidik dan memberikan semua ilmu agar anaknya menjadi orang yang berguna nantinya. Namun tanpa disadari, banyak hal yang terkadang di luar kemauan orang tua.Orang tua, karena telah menyerahkan anaknya, menganggap bahwa setiap perlakuan yang diterima anaknya adalah tindakan yang benar dilakukan oleh pendidik kepercayaannya. Tapi sayangnya terkadang pula kepercayaan ini telah merenggut buah hatinya.Sepertinya, tidak dapat percaya untuk menerimanya. Banyak anak yang memang pintar dan pandai bergaul, namun tidak jarang anak menjadi pendiam dan tidak terkontrol. Hal ini disebabkan karena psikologinya telah terganggu diakibatkan anak tersebut telah mendapatkan perlakukan yang tidak wajar, baik oleh teman-temannya, kakak kelasnya, gurunya maupun orang tuanya. Semua ini adalah siklus pembelajaran baginya. Banyak kasus kekerasan terhadap anak di sekolah yang tidak terduga yang patut dicurigai orang tua seperti; tubuh memar dan biru-biru di sekitar paha, pinggang, perut, punggung dan wajah. Bukan karena berkelahi, namun karena dipukul dengan penggaris atau alat lainnya, dicubit, ditampar dan perlakuan secara kasar lainnya. Hal ini dilakukan guru karena murid atau siswa tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas, bahkan tidak benar menjawabpun akan mendapat hukuman. Padahal gurunya sudah pasti mengetahui kemampuan muridnya. Lebih parahnya lagi, kebanyakan di peusantren Salafi masih menggunakan cara-cara demikian dan malah meneruskannya yang dilakukan oleh kakak kelas dan hal ini disetujui oleh pihak pesantren, seperti; menyiram air ke tubuh,ke kepala. Jika tidak bangun subuh, dipukul di tengkuk dengan sajadah yang digulung. Jika tertidur ketika menghafal Al-Qur’an, dipukul telapak tangannya atau punggungnya dengan rotan. Malah ada rotan berduri, mencubit perut dan mencubit bibir jika ketahuan merokok dan lain-lain. Padahal masih banyak hukuman yang wajar, yang mendidik yang dapat diberikan oleh seorang guru yang akan diteladaninya. Seperti hukuman yang dilakukan oleh sekolah Boarding School yaitu; memenjarakan anak dalam penjara sejuta ilmu (anak mendapat tugas lebih berat; menghafal Al-Qur’an, membaca buku cerita dan mengisahkannya dihadapan teman-teman, mendemonstrasikan contoh pengalaman para Pahlawan, Rasulullah SAW, Hikayat, memberi kegiatan yang lebih bertanggungjawab, membersihkan ruangan atau kamar mandi dengan pengawasan oleh gurunya, dan lainnya. (dalam hal ini anak akan mendapat kepercayaan lebih,dan berusaha bertanggungjawab). Adalagi suatu perlakukan yang sangat menyakitkan yaitu perlakukan tidak senonoh seperti; menyentuh bagian sensitif anak perempuan dan lelaki seperti, paha, payudara dan kemaluannya. Perbuatan cabul yang dirasakan anak ini tidak hanya terjadi pada sekolah umum saja, namun di Pesantren juga ada. Hal ini dilakukan oleh kakak kelas dan gurunya. Yang sangat menyakitkan jika dilakukan terhadap anak perempuan, apalagi bila sampai merobek keperawanannya, yang di Indonesia hal ini adalah hal yang masih dipertahankan oleh seorang gadis untuk suaminya. Namun jika hal ini telah terjadi bagaimana dengan kondisi anak perempuan tersebut? Jangankan yang menjadi korban, yang melihat kejadian asusila tersebut (temannya) juga akan merasakan trauma yang sangat berat, karena ia merasa seandainya hal ini terjadi pada dirinya. bagaimana ya ?. Apalagi sang korban. Sungguh jauh dari bayangan orang tua. Trauma anak korban kekerasan seksual, lebih dalam mempengaruhi psikologinya dibandingkan anak korban kekerasan fisik. Anak akan merasa sangat bersalah, mengapa hal ini bisa terjadi pada dirinya, dan juga terkadang lingkungannya (keluarga, teman, masyarakat) juga mencemoohkannya, apalagi jika terjadi kehamilan, sementara anak belum siap untuk hamil. Dan nantinya akan mengurus bayi setelah anak lahir. Sungguh masih jauh dari bayangannya. Lebih parah lagi, gurunya terkadang ada juga yang mencari-cari kesalahan dengan memberi pernyataan negatif terhadap sikap anak tersebut sebelum hal ini menimpanya. Seperti; menganggap anak ini memang bodoh tidak dapat menjaga diri, suka mendekati anak lelaki atau lainnya yang memberi cap negatif bagi dirinya. Dalam hal ini, yang sangat dibutuhkan korban sebenarnya adalah teman yang memberi kekuatan agar ia dapat melalui hal ini. Seperti; orang tua dan keluarganya serta gurunya. Orang tua adalah teman terdekat dalam rumah, yang harus memberi perlindungan penuh baginya. Begitu pula dengan pihak keluarga. Semua harus mendukungnya, mendorongnya agar tetap meneruskan hidup dan memperjuangkan hak atas dirinya. Begitu pula dengan gurunya, guru adalah pelindung dirinya di Sekolah, harus turut memberi dukungan dan mendorong agar anak tetap bersekolah, karena anak masih tetap berhak atas pendidikandi sekolah tersebut. Guru bertanggungjawab memberi pendidikan dan perlindungan kepadanya tanpa mencemoohkan apa yang telah terjadi pada dirinya. Dan jika hal tidak senonoh ini dilakukan oleh guru terhadap muridnya, maka guru tersebut harus dijauhkan dari pandangan anak ini dan anak tetap diberi pendidikan. Namun jika anak masih trauma terhadap sekolah tersebut, maka anak harus mendapat pendidikan dari sekolah lain, atau home schooling dengan guru yang dikehendakinya. Dalam hal ini seharusnya negara bertanggungjawab terhadap kasus ini, karena kasus ini melanggar UU perlindungan anak dan pelaku harus dihukum sesuai dengan kesalahan yang diperbuat. Semua pihak akan memberi perlindungan Hukum terhadap anak ini, LBH, LBH Anak, LSM pelindung perempuan dan anak, pemerhati anak, Psikolog, Pemerintah setempat, Kandepag, Kandepend,Ulama, Majelis Adat dan Aparat Penegak Hukum dan Media. Tapi sayangnya, yang terjadi di Aceh Besar, kasus pencabulan yang disangkakan dilakukan oleh gurunya sangat di luar harapan UU perlindungan anak. Anak yang telah mengalami trauma saat ini tidak mau kesekolah lagi. Anak malu bertemu dengan teman-teman dan gurunya yang seharusnya mendukungnya. Sikap guru-guru yang mencemoohkannya, memberi cap negatif bagi sikapnya dengan ungkapan (anak idiot dan nakal) telah menambah penderitaan trauma yang sedang dihadapinya. Saat ini semua guru bersatu dengan persatuan Guru di Aceh untuk mendukung tersangka. Tidak ada guru kelas yang memberi dukungan bagi korban. Apa yang terjadi pada sikap guru di Aceh Besar. Apakah jika korban selanjutnya anak dari para guru di Aceh Besar masyarakat atau pemerintah harus diam saja??? Sebagai pemerhati perlindungan anak dan perempuan di Aceh, kita sangat mengkhawatirkan hal ini. Apakah anak di sekolah tidak diajarkan pendidikan etika dan moral sehingga tidak ada rasa keprihatinan terhadap korban atau sesama.Malah setiap orang harus menjauhi korban. Apakah guru hanya digaji untuk memberi pendidikan formal saja, sehingga tidak perlu menumbuhkan sikap kepedulian terhadap sesama, apalagi manusia. Di mana letak tanggungjawab para guru, dan di mana rasa kepedulian terhadap sesamanya?Apalagi perempuan. Bagaimana perkembangan anak Aceh ke depan. Mau jadi apa bangsa ini. Rasulullah SAW diutus kemuka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia. Pendidikan Rasulullah sangat indah, walaupun Rasulullah hanya anak yatim, namun sikap dan akhlaknya sangat terpuji. Kepedulian terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya sangat luar biasa. Beliau tidak ceroboh dalam mengambil keputusan untuk kebaikan umatnya dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Walaupun beliau tinggal di lingkungan orang kafir, namun tidak pernah beliau membalas kekafiran mereka. Beliau sangat menghormati kepercayaan dan keyakinan bangsa lain, tidak memberi hukuman yang membuat tubuh orang lain cedera, sangat berhati-hati menentukan jawaban, walaupun terkadang sahabat tetap meminta dan memaksa beliau agar menetapkan hukuman cambuk dan raja., Namun Rasulullah tetap menimbang dengan sangat hati-hati. Pada Rasulullah SAW hanya terjadi 1 kali hukuman Rajam, itupun karena diminta oleh pelaku. Kata Rasulullah “pukullah anakmu, jika anak usia tujuh tahun tidak sholat”, sebagian Ulama menafsirkan bahwa “Berilah hukuman pada anakmu jika anakmu tidak melaksanakan sholat pada usia tujuh tahun dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas (di tempat yang berdaging tebal, tidak lembam, tidak berdarah, tidak meninggalkan luka) dengan kasih sayangmu dan berkata-katalah dengan lemah lembut dan bijaksana, karena dia akan mengingatmu” (Aisyah ra). Usia tujuh tahun adalah usia pembelajaran pelaksanaan ibadah yang akan diwajibkan jika seorang anak laki-laki telah masuk masa baligh atau disunnat, karena laki-laki akan diciptakan sebagai Imam. Dan anak perempuan menjadi makmum. Artinya teladan pada Rasulullah harus menjadi contoh bagi guru, bahwa mendidik tidak harus dengan perlakukan kasar. Banyak keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah dengan pendidikan yang penuh dengan kasih sayang. Seperti juga halnya dengan permasalahan di Aceh Besar, walaupun korban (muridnya) telah menuduh gurunya sebagai pelaku, namun korban adalah muridnya yang seharusnya diberi perlindungan dan tetap mendapat pendidikan. Sementara biarlah kasus ini diselesaikan secara baik, dipengadilan untuk menentukan siapa pelaku yang sebenarnya sesuai dengan prosedure dan temuan bukti-bukti. Pihak Persatuan Guru tetap harus mengadvokasi guru agar mendapatkan perlindungan hukum bagi tersangka dan tidak seharusnya menambah ungkapan,cemoohan kepada korban karena para guru juga akan mendapat dugaan pencemaran nama baik terhadap korban. Apakah hal ini harus dibiarkan terjadi pada guru, bahwa guru sebagai teladan bagi semua murid telah mencemoohkan, mengupat muridnya sendiri. Apakah mengupat diizinkan bagi guru dan tidak dibolehkan oleh agama yang dianut. Siapa yang harus diikuti? Masyarakat yang akan menilai ini. Saat ini citra guru Aceh Besar sedang dipertaruhkan. Apakah sebagai orang tua murid akan membiarkan muridnya mendapat pendidikan dari guru yang pengupat. Orang tua murid akan memberi penilaian. Seperti kita ketahui guru adalah pejuang tanpatanda jasa, tanpa pamrih, pendidikan harus berjalan walaupun dalam kondisi apapun. Banyak guru di daerah terpencil mempertahankan citranya agar anak-anak mau bersekolah apa adanya.Guru Aceh Besar harus kembali kepada khittahnya..Jangan mengikuti emosi atau solidaritas yang membuat citra guru jadi buruk. Kalau memang sang gurunya adalah benar pelaku pencabulan tersebut, maka ia harus mendapat hukuman, dan tidak berarti guru lain menanggung hukuman atas nama guru. Karena itu kesalahan individu tersebut, bukan karena diperintah, bersama-sama dilakukan oleh guru lainnya. Jadi guru lainnya tidak perlu merasa menanggung beban yang sama. Nama guru akan tetap terjamin, karena masih banyak guru yang peduli terhadap persoalan ini. Dalam hal ini semua pemerhati dan yang peduli terhadap perlindungan perempuan dan anak di Aceh harus bersatu, membantu dan mendukung korban agar dapat mengurangi trauma, mendapat pendidikan dan memperjuangkan haknya di Pengadilan. Apa yang harus dilakukan orang tua untukmencegah kekerasan terhadap anak di sekolah? Sebaiknya orang tua selalu mengawasi anaknya, mengunjungi sesekali anaknya yang di sekolah atau pesantren. Berkomunikasi dengan anak secara baik adalah hal yang utama untuk memberi kekuatan pada anak agar anak merasa diperhatikan dalam menuntut ilmu dan melindunginya dari perlakukan yang tidak wajar. Dan jika mendapati anaknya telah diperlakukan secara kasar sebaiknya segera membawa ke rumah sakit untuk diketahui penyebabnya, dan jika terlalu berat dapat dilaporkan kepada Polisi setempat dan membawa anak yang trauma ke Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)/Rumah aman/ WCC terdekat. Dan pihak keluarga juga dapat mengkonfirmasi hal ini kepada pihak sekolah. Duduk berdiskusi dengan salah satu guru anak juga baik untuk membangkitkan semangat guru dalam memberi pengetahuan yang mendidik dan menjadikannya sebagai pelindung anak di sekolah, sehingga guru tersebut merasa meningkat kapasitasnya, dan menumbuhkan percaya diri guru. Kemarahan atau emosi yang meletup dari pendidik ini harus dihapus dari dunia pendidikan, karena jika anak diajarkan dengan cara membuka logika berfikir bahwa supaya pintar anak harus dipukul artinya telah membuka logika berfikir hewaninya. Karena sifat Hewan/binatang jika tidak dipukul maka tidak akan mendengar perintah manusiabegitulah hakikahnya. Apakah seorang anak manusia yang sedang mendapat pendidikan sama rendahnya dengan hewan? Hal ini harus di bahas lebih dalam. Sesungguhnya guru adalah teladan bagi murid/siswanya. Apalagi jika anak sedang masa pertumbuhan/pancaroba tentu anak tersebut sedang mencari jati dirinya. Banyak sekali guru yang dicintai oleh muridnya, sepanjang hayatnya ia akan mengingatnya, apakah citra baik atau buruk guru tersebut. Begitu pula sikap dan perilaku guru tetap akan terpatri dalam diri anak tersebut. Namun sangat disayangkan jika seorang guru telah menodai kepercayaan orang tuanya, maka sepanjang hidupnya pula ia tidak akan percaya lagi. Anak akan mengingat setiap perlakuan yang diterimanya baik menyenangkan atau menyakitinya. Efeknya dapat dilihat dari perubahan dan perkembangan emosi dan psikologinya di masa datang. Maka perlakuan tersebut juga akan diteruskan kepada anaknya, anak didiknya, pekerjanya/bawahannya jika terpilih sebagai pemimpin, pasangan hidupnya dan siapa saja yang terlibat dalam hidupnya.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.