KASUS HUKUM PENGURUS PT JIKA DIREKTUR MENINGGAL DUNIA SAHAM SEBAGAI OBJEK OBJEK WARIS

Dipublikasikan oleh admin pada

Kronologi : Seorang Direktur Utama sekaligus menjadi Pemegang saham mayoritas yang bernama X Pada PT. XXX Meninggal dunia, tetapi setelah almarhum X meninggal, hak-hak almarhum X yang harusnya beralih ke ahli warisnya, tetapi tidak beralih. Pertanyaan?? 1.  Siapakah yang bertanggung jawab, jika direktur utama meninggal dunia, siapa yang melakukan kepengurusan pada PT XXX tersebut ?? 2.  Apakah saham termasuk sebagai objek waris ??? Jawab : 1.  Berdasarkan Undang-Undang Nomor: 40 Tahun 2007, Tentang Perseroan Terbatas, pada pasal 118, “Yang berkewajiban  menjalankan pengurusan perusahaan disaat keadaan tertentu adalah Komisaris dalam hal ini mengadakan RUPS Luar biasa”. Dalam hal ini yang dimaksud keadaan tertentu dapat kategorikan jika Direktur dalam perusahaan tersebut “Meninggal Dunia” Sehingga yang bertanggungjawab atas seluruh kepengurusan perusahaan tersebut adalah komisaris, sampai diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Jika pemegang saham hanya ada 2 orang  saja, kemudian salah satu dari pemegang saham itu meninggal, maka yang berhak mewakili dalam rapat umum pemegang saham tersebut adalah Ahli warisnya. 2.  Apakah saham sebagai Objek waris ??   Sebagaimana ketentuan Undang-Undang nomor: 40 Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas, dalam pasal 57 disebutkan : 1.    Dalam anggaran dasar dapat diatur persyaratan mengenai pemindahan hak atas saham, yaitu: a.    Keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham dengan klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainnya; b.    Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Organ Perseroan dan/atau c.    Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2.    Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal pemindahan hak atas saham disebabkan peralihan hak karena hukum, kecuali keharusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berkenaan dengan kewarisan. Pasal 830 KUHPerdata, mengatur : “Harta waris baru terbuka (dapat diwariskan kepada pihak lain), apabila terjadi suatu kematian dan adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli warisnya”, Pasal 832 KUHPerdata, mengatur : “kecuali untuk suami atau istri pewaris dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia”. Bahwa atas dasar dan mengacu pada ketentuan tersebut, maka saham dan hak-hak lainnya yang seharusnya yang di miliki almarhum X pada PT. XXX tersebut, beralih kepada ahli warisnya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.